BAB I
PENDAHULUAN
1.1
Latar
Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi yang berbentuk lisan dan tulisan
yang dipergunakan oleh individu mapun masyarakat. Tanpa ada bahasa berarti
tidak ada masyarakat dan tidak ada pergaulan. Sifat-sifat masyarakat terutama
dapat dipelajari dari bahasanya,yang memang menyatakan sesuatu yang hidup dalam
masyarakat tersebut ( Hasan,2001).
Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan individu lain untuk
berinteraksi dan berkomunikasi. Bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi
yang hanya dimiliki oleh manusia,dapat dikaji secara internal dan eksternal.
Kajian secara internal adalah pengkajian yang dilakukan terhadap unsur didalam
bahasa seperti,struktur fonologis,morfologis,dan sintaksis bahasa. Sedangkan
kajian secara eksternal adalah kajian yang dilakukan terhadap unsur diluar
bahasa,yang berkaitan dengan pemakaian bahasa itu sendiri,masyarakat tutur atau
lingkungannya.
Bahasa mempunyai dua aspek mendasar, yaitu bentuk, baik bunyi, tulisan
maupun strukturnya, dan makna, baik leksial maupun fungsional dan structural.
Jika kita memperhatikan bahasa dengan terperinci dan teliti, kita akan melihat
bahwa bahasa itu dalam bentuk dan maknanya menunjukkan perbedaan-perbedaan
kecil atau besar antara pengungkapan satu dengan pengungkapan yang lain, lalu
kita akan mendengarkan perbedaan-perbedaannya.
Seperti halnya yang kita ketahui di sekitar kita, setiap daerah
hampir seluruhnya mempunyai bahasa daerahnya sendiri-sendiri atau bisa
dikatakan meskipun istilahnya bahasa jawa akan tetapi bahasa jawa sendiri masih
banyak macamnya yang dipergunakan disetiap daerah, begitu juga dengan bahasa
arab, di negara-negara arab tidak semua bahasa mereka sama, akan tetapi masih
banya ragam bahasa didalam bahasa arab itu sendiri.
Dari beberapa uraian diatas, makalah yang kami susun disini akan
membahas berbagai macam variasi yang terdapat dalam bahasa dan fator-faktor
yang mempengaruhi terjadinya ragam variasi bahasa itu sendiri.
1.2
Rumusan
Masalah
1.2.1
Apakah
pengertian dan penyebab dari varaisi bahasa ?
1.2.2
Apakah
jenis-jenis variasi bahasa ?
1.3
Tujuan
1.3.1
Menjelaskan
pengertian dan penyebab variasi bahasa
1.3.2
Menjelaskan
jenis-jenis variasi bahasa
BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian dan Penyebab Variasi Bahasa
Variasi bahasa
adalah jenis ragam bahasa yang pemakaianya disesuaikan dengan fungsi dan
situasi tanpa menghasilkan kaidah-kaidah pokok yang berlaku dalam bahasa yang
bersangkutan (Suwito, 1985: 29). Variasi bahasa berkenaan dengan penggunannya, pemakainya
atau fungsinya disebut fungsiolek ragam atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan
berdasarkan bidang penggunaan gaya atau tingkat keformalan dan sarana
penggunaan (Nababan melalui Chaer, 1995: 89-90).
Menurut Sumarsono
(2013:61) faktor penyebab keberagaman bahasa dapat terdiri dari beberapa hal,
yaitu:
·
Lingkungan
fisik tempat suatu masyarakat hidup dapat dicerminkan dalam bahasanya. Artinya,
lingkungan dapat mempengaruhi bahasa masyarakat itu, biasanya dalam hal
leksikon atau perbendaharaan katanya. Misalnya Orang Jawa atau Bali mampu
mengadakan pembedaan terperinci tentang padi, dan hal itu tercermin dalam
bahasanya. Lingkunganlah yang menyebabkan kosakata dua bahasa berbeda, dan
perbedaan itu tidak ada hubungannya dengan kemampuan otak.
·
Lingkungan
sosial dapat juga dicerminkan dalam bahasa dan sering dapat berpengaruh pada
struktur kosakata. Misalnya sistem
kekeluargaan atau kekerabatan orang Amerika berbeda dengan sistem kekeluargaan
orang-orang dari berbagai suku di Indonesia. dan ini tercermin dalam
kosakatanya. Orang Amerika mempunyai family yang padanannya dalam bahasa
Indonesia adalah keluarga. Tetapi family hanya mencakup “suami, istri, dan
anak-anaknya”, sedangkan keluarga bisa mencakup orang-orang di luar suami,
istri, dan anak-anak.
·
Adanya
lapisan-lapisan masyarakat feodal dan kasta menimbulkan pula pengaruh dalam
bahasa. Akibat adanya sistem feodal pada beberapa suku di Indonesia dan sistem
kasta pada masyarakat Bali pada zaman dahulu, maka dalam mayarakat itu muncul
perjenjangan dalam bahasa.
·
Di
samping lingkungan dan struktur sosial, nilai-nilai masyarakat (social value)
dapat pula berpengaruh pada bahasa masyarakat itu. Misalnya, untuk roh halus
yang dianggap menunggu pohon besar orang Jawa memanggilnya dengan kata mbah
“kakek;nenek”. Orang Bali menyebut bikul “tikus” yang hama dengan istilah jero
ketut.
2.2 Jenis-Jenis Variasi Bahasa
Chaer dan Agustina (1995:62) membedakan
variasi bahasa, sebagai berikut:
2.2.1
Variasi Bahasa dari Segi Penutur
Variasi
bahasa dari segi penutur adalah variasi bahasa yang bersifat individu dan
variasi bahasa dari sekelompok individu yang jumlahnya relatif, yang berada
pada satu tempat/wilayah atau area (idiolek dan dialek).
·
Idiolek: variasi bahasa yang bersifat
perseorangan. Menurut konsep idiolek. Setiap orang atau individu mempunyai
variasi bahasa atau idiolek masing-masing.
·
Dialek: variasi bahasa dari sekelompok penutur
yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area
tertentu.(dialek areal, dialek regional, dialek geografi). Misalnya bahasa Jawa dialek Pekalongan, bahasa Jawa
dialek Surabaya. Yang masing-masing daerah tersebut memiliki dialek bahasa Jawa
berbeda, walau pun pada dasarnya adalah sama-sama bahasa Jawa.
·
Kronolek atau dialek temporal: variasi bahasa yang
digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu, misalnya variasi bahasa pada
masa tahun tiga puluhan. Lima puluhan dan masa kini. Variasi bahasa dari ketiga
zaman tersebut tentunya berbeda, baik dari segi pelafalan, ejaan, morfologi,
dan sintaksis. Namun yang paling tampak adalah dari segi leksikon, karena
bidang ini mudah sekali berubah akibat perubahan sosial budaya, ilmu
pengetahuan, dan teknologi.
·
Sosiolek/dialek sosial: variasi sosial yang
berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Sehubungan
dengan ini ada beberapa variasi bahasa yang disebut:
§
Akrolek: variasi bahasa
sosial yang dianggap lebih tinggi atau paling bergengsi daripada variasi bahasa
lainnya. Misalnya bahasa bagongan,
yaitu variasi bahasa jawa yang khusus digunakan oleh para bangsawan kraton
Jawa.
§
Basilek: variasi sosial
yang dianggap kurang bergengsi, atau bahkan dianggap rendah. Misalanya bahasa
Jawa karma ndesa yang digunakan kum
atau masyarakat rendah.
§
Vulgar: variasi sosial
yang ciri-cirinya tampak pemakaian bahasa oleh mereka yang kurang terpelajar,
atau dari kalangan yang tidak berpendidikan.
§
Slang: variasi sosial
yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya digunakan oleh kalangan tetentu yang
sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kalangan
tersebut.
§
Kolokial: variasi
sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sehingga bahasa kolokial
adalah bahasa percakapan bukan bahasa tulis.
§
Jargon: variasi sosial
yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu. Ungkapan
yang digunakan biasanya tidak dapat dimengerti masyarakat umum di luar kelompok
tersebut.
§
Argot: variasi sosial yang digunakan secara terbatas
pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Letak kekhususan argot
adalah pada kosakata yang digunakan.
§
Ken: variasi sosial
tertentu bernada “memelas”, dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan.
Biasanya digunkan oleh para pengemis.
2.2.2 Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian
Nababan (dalam Chaer dan Agutina,
1995:68) mengemukakan variasi bahasa berkenaan dengan penggunaannya,
pemakaiannya, atau fungsinya disebut fungsiolek,
ragam, atau register. Variasi ini berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau
tingkat keformalan, dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang
penggunaan, misalnya bidang sastra, jurnalistik, militer, pertanian,
perdagangan, perekonomian, pendidikan dan sebagainya. Setiap bidang kegiatan
biasanya memiliki sejumlah kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang
kegiatan lain.
Variasi bahas berdasarkan fungsi
biasanya disebut register. Register berkenaan dengan masalah bahasa
itu digunakan untuk kegiatan apa.
2.2.3 Variasi Bahasa dari Segi Keformalan
Berdasarkan pendapat Joos (dalam Chaer
dan Agustina, 1995), membedakan variasi bahasa berdasarkan keformalan atas
beberapa bagian, yaitu:
·
Ragam beku: variasi
bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan
upacara-upacara resmi. Misalnya dalam upacara kenegaraan, kitab undang-undang,
akte notaris, dan surat-surat keputusan. Disebut ragam beku karena pola dan
kaidah-kaidahnya sudah ditentukan secara mantap.
·
Ragam resmi atau
formal: variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas,
surat-menyurat dinas, dan buku-buku pelajaran. Ragam resmi sudah ditetapkan
secara mantap sebagai standar.
·
Ragam usaha: variasi
bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, dan rapat-rapat
atau pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Sehingga
dikatakan ragam usaha adalah ragam bahasa yang paling operasional.
·
Ragam santai: variasi
bahasa yang digunkan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan
keluarga atau teman pada waktu istirahat atau rekreasi, atau pun olah raga.
·
Ragam akrab: variasi
bahasa yang biasa digunkan oleh penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti
antar anggota keluarga, atau sahabat dekat.
2.2.4
Variasi Bahasa dari Segi Sarana
Variasi bahasa ini dilihat dari sarana yang digunakan, yaitu ragam
bahasa lisan dan ragam bahasa tulis. Penggunaan ragam bahasa lisan dibantu
dengan unsur-unsur suprasegmental, sedangkan ragam bahasa tulis dibantu dengan
ejaan termasuk tanda baca ( Chaer dan Agustina (1995:62).
BAB III
PENUTUP
3.1
Simpulan
Variasi
bahasa adalah jenis ragam bahasa yang pemakaianya disesuaikan dengan fungsi dan
situasi tanpa menghasilkan kaidah-kaidah pokok yang berlaku dalam bahasa yang
bersangkutan (Suwito, 1985: 29).Sedangkan jenisnya
menurut Chaer dan Agustina (1995:62), dapat dibedakan menjadi yaitu dari segi
penutur, pemakaian, keformalan, dan sarana.
3.2
Saran
Sebagai penutur bahasa kita seharusnya menggunakan variasi
bahasa yang sesuai dengan konteksnya. Penulis juga menyadari makalah ini masih
jauh dari sempurna, sehingga penulis sangat mengharapakan kritik dan saran dari
pembaca.
DAFTAR
PUSTAKA
Chaer,Abdul dan Leonie Agustina.1995.Sosiolinguistik Perkenalan
Awal. Jakarta : Rineka Cipta.
Hasan,Kailani.2001. Linguistik Umum dan Sosiolinguistik.
Pekanbaru : Universitas Riau Press
Sumarsono. 2013. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA
Suwito.1985.Pengantar Awal Sosiolinguistik.Teori dan
Problema.Surakarta:Henary Offset Solo.Edisi ke-5
Tidak ada komentar:
Posting Komentar