Percayalah pada payung rusak kecil yang kau miliki, dan teroboslah hujan lebat tersebut. Saat ini, kami berencana untuk menggunakan bakat kecil yang kami miliki untuk memimpikan impian terbesar yang kami mampu impikan

Jumat, 08 Mei 2015

Makalah Bahasa Indonesia (Variasi Bahasa)



BAB I
PENDAHULUAN
1.1    Latar Belakang
Bahasa merupakan alat komunikasi yang berbentuk lisan dan tulisan yang dipergunakan oleh individu mapun masyarakat. Tanpa ada bahasa berarti tidak ada masyarakat dan tidak ada pergaulan. Sifat-sifat masyarakat terutama dapat dipelajari dari bahasanya,yang memang menyatakan sesuatu yang hidup dalam masyarakat tersebut ( Hasan,2001).
Sebagai makhluk sosial manusia membutuhkan individu lain untuk berinteraksi dan berkomunikasi. Bahasa sebagai alat komunikasi dan interaksi yang hanya dimiliki oleh manusia,dapat dikaji secara internal dan eksternal. Kajian secara internal adalah pengkajian yang dilakukan terhadap unsur didalam bahasa seperti,struktur fonologis,morfologis,dan sintaksis bahasa. Sedangkan kajian secara eksternal adalah kajian yang dilakukan terhadap unsur diluar bahasa,yang berkaitan dengan pemakaian bahasa itu sendiri,masyarakat tutur atau lingkungannya.
Bahasa mempunyai dua aspek mendasar, yaitu bentuk, baik bunyi, tulisan maupun strukturnya, dan makna, baik leksial maupun fungsional dan structural. Jika kita memperhatikan bahasa dengan terperinci dan teliti, kita akan melihat bahwa bahasa itu dalam bentuk dan maknanya menunjukkan perbedaan-perbedaan kecil atau besar antara pengungkapan satu dengan pengungkapan yang lain, lalu kita akan mendengarkan perbedaan-perbedaannya.
Seperti halnya yang kita ketahui di sekitar kita, setiap daerah hampir seluruhnya mempunyai bahasa daerahnya sendiri-sendiri atau bisa dikatakan meskipun istilahnya bahasa jawa akan tetapi bahasa jawa sendiri masih banyak macamnya yang dipergunakan disetiap daerah, begitu juga dengan bahasa arab, di negara-negara arab tidak semua bahasa mereka sama, akan tetapi masih banya ragam bahasa didalam bahasa arab itu sendiri.
Dari beberapa uraian diatas, makalah yang kami susun disini akan membahas berbagai macam variasi yang terdapat dalam bahasa dan fator-faktor yang mempengaruhi terjadinya ragam variasi bahasa itu sendiri.

1.2    Rumusan Masalah
1.2.1        Apakah pengertian dan penyebab dari varaisi bahasa ?
1.2.2        Apakah jenis-jenis variasi bahasa ?

1.3    Tujuan
1.3.1        Menjelaskan pengertian dan penyebab variasi bahasa
1.3.2        Menjelaskan jenis-jenis variasi bahasa





















BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Penyebab Variasi Bahasa
            Variasi bahasa adalah jenis ragam bahasa yang pemakaianya disesuaikan dengan fungsi dan situasi tanpa menghasilkan kaidah-kaidah pokok yang berlaku dalam bahasa yang bersangkutan (Suwito, 1985: 29). Variasi bahasa berkenaan dengan penggunannya, pemakainya atau fungsinya disebut fungsiolek ragam atau register. Variasi ini biasanya dibicarakan berdasarkan bidang penggunaan gaya atau tingkat keformalan dan sarana penggunaan (Nababan melalui Chaer, 1995: 89-90).
            Menurut Sumarsono (2013:61) faktor penyebab keberagaman bahasa dapat terdiri dari beberapa hal, yaitu:
·         Lingkungan fisik tempat suatu masyarakat hidup dapat dicerminkan dalam bahasanya. Artinya, lingkungan dapat mempengaruhi bahasa masyarakat itu, biasanya dalam hal leksikon atau perbendaharaan katanya. Misalnya Orang Jawa atau Bali mampu mengadakan pembedaan terperinci tentang padi, dan hal itu tercermin dalam bahasanya. Lingkunganlah yang menyebabkan kosakata dua bahasa berbeda, dan perbedaan itu tidak ada hubungannya dengan kemampuan otak.
·         Lingkungan sosial dapat juga dicerminkan dalam bahasa dan sering dapat berpengaruh pada struktur kosakata.  Misalnya sistem kekeluargaan atau kekerabatan orang Amerika berbeda dengan sistem kekeluargaan orang-orang dari berbagai suku di Indonesia. dan ini tercermin dalam kosakatanya. Orang Amerika mempunyai family yang padanannya dalam bahasa Indonesia adalah keluarga. Tetapi family hanya mencakup “suami, istri, dan anak-anaknya”, sedangkan keluarga bisa mencakup orang-orang di luar suami, istri, dan anak-anak.
·         Adanya lapisan-lapisan masyarakat feodal dan kasta menimbulkan pula pengaruh dalam bahasa. Akibat adanya sistem feodal pada beberapa suku di Indonesia dan sistem kasta pada masyarakat Bali pada zaman dahulu, maka dalam mayarakat itu muncul perjenjangan dalam bahasa.
·         Di samping lingkungan dan struktur sosial, nilai-nilai masyarakat (social value) dapat pula berpengaruh pada bahasa masyarakat itu. Misalnya, untuk roh halus yang dianggap menunggu pohon besar orang Jawa memanggilnya dengan kata mbah “kakek;nenek”. Orang Bali menyebut bikul “tikus” yang hama dengan istilah jero ketut.

2.2 Jenis-Jenis Variasi Bahasa
 Chaer dan Agustina (1995:62) membedakan variasi bahasa, sebagai berikut:

2.2.1  Variasi Bahasa dari Segi Penutur
Variasi bahasa dari segi penutur adalah variasi bahasa yang bersifat individu dan variasi bahasa dari sekelompok individu yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat/wilayah atau area (idiolek dan dialek).
·         Idiolek: variasi bahasa yang bersifat perseorangan. Menurut konsep idiolek. Setiap orang atau individu mempunyai variasi bahasa atau idiolek masing-masing. 
·         Dialek: variasi bahasa dari sekelompok penutur yang jumlahnya relatif, yang berada pada satu tempat, wilayah, atau area tertentu.(dialek areal, dialek regional, dialek geografi). Misalnya  bahasa Jawa dialek Pekalongan, bahasa Jawa dialek Surabaya. Yang masing-masing daerah tersebut memiliki dialek bahasa Jawa berbeda, walau pun pada dasarnya adalah sama-sama bahasa Jawa. 
·         Kronolek atau dialek temporal: variasi bahasa yang digunakan oleh kelompok sosial pada masa tertentu, misalnya variasi bahasa pada masa tahun tiga puluhan. Lima puluhan dan masa kini. Variasi bahasa dari ketiga zaman tersebut tentunya berbeda, baik dari segi pelafalan, ejaan, morfologi, dan sintaksis. Namun yang paling tampak adalah dari segi leksikon, karena bidang ini mudah sekali berubah akibat perubahan sosial budaya, ilmu pengetahuan, dan teknologi.
·         Sosiolek/dialek sosial: variasi sosial yang berkenaan dengan status, golongan, dan kelas sosial para penuturnya. Sehubungan dengan ini ada beberapa variasi bahasa yang disebut:
§  Akrolek: variasi bahasa sosial yang dianggap lebih tinggi atau paling bergengsi daripada variasi bahasa lainnya. Misalnya bahasa bagongan, yaitu variasi bahasa jawa yang khusus digunakan oleh para bangsawan kraton Jawa.
§  Basilek: variasi sosial yang dianggap kurang bergengsi, atau bahkan dianggap rendah. Misalanya bahasa Jawa karma ndesa yang digunakan kum atau masyarakat rendah.
§  Vulgar: variasi sosial yang ciri-cirinya tampak pemakaian bahasa oleh mereka yang kurang terpelajar, atau dari kalangan yang tidak berpendidikan.
§  Slang: variasi sosial yang bersifat khusus dan rahasia. Artinya digunakan oleh kalangan tetentu yang sangat terbatas, dan tidak boleh diketahui oleh kalangan di luar kalangan tersebut.
§  Kolokial: variasi sosial yang digunakan dalam percakapan sehari-hari. Sehingga bahasa kolokial adalah bahasa percakapan bukan bahasa tulis.
§  Jargon: variasi sosial yang digunakan secara terbatas oleh kelompok-kelompok sosial tertentu. Ungkapan yang digunakan biasanya tidak dapat dimengerti masyarakat umum di luar kelompok tersebut.
§  Argot:  variasi sosial yang digunakan secara terbatas pada profesi-profesi tertentu dan bersifat rahasia. Letak kekhususan argot adalah pada kosakata yang digunakan.
§  Ken: variasi sosial tertentu bernada “memelas”, dibuat merengek-rengek, penuh dengan kepura-puraan. Biasanya digunkan oleh para pengemis.

2.2.2   Variasi Bahasa dari Segi Pemakaian 
       Nababan (dalam Chaer dan Agutina, 1995:68) mengemukakan variasi bahasa berkenaan dengan penggunaannya, pemakaiannya, atau fungsinya disebut fungsiolek, ragam, atau register. Variasi ini berdasarkan bidang penggunaan, gaya, atau tingkat keformalan, dan sarana penggunaan. Variasi bahasa berdasarkan bidang penggunaan, misalnya bidang sastra, jurnalistik, militer, pertanian, perdagangan, perekonomian, pendidikan dan sebagainya. Setiap bidang kegiatan biasanya memiliki sejumlah kosakata khusus yang tidak digunakan dalam bidang kegiatan lain.
       Variasi bahas berdasarkan fungsi biasanya disebut register. Register berkenaan dengan masalah bahasa itu digunakan untuk kegiatan apa.     

2.2.3    Variasi Bahasa dari Segi Keformalan
        Berdasarkan pendapat Joos (dalam Chaer dan Agustina, 1995), membedakan variasi bahasa berdasarkan keformalan atas beberapa bagian, yaitu:
·         Ragam beku: variasi bahasa yang paling formal, yang digunakan dalam situasi-situasi khidmat, dan upacara-upacara resmi. Misalnya dalam upacara kenegaraan, kitab undang-undang, akte notaris, dan surat-surat keputusan. Disebut ragam beku karena pola dan kaidah-kaidahnya sudah ditentukan secara mantap.
·         Ragam resmi atau formal: variasi bahasa yang digunakan dalam pidato kenegaraan, rapat dinas, surat-menyurat dinas, dan buku-buku pelajaran. Ragam resmi sudah ditetapkan secara mantap sebagai standar.
·         Ragam usaha: variasi bahasa yang lazim digunakan dalam pembicaraan biasa di sekolah, dan rapat-rapat atau pembicaraan yang berorientasi kepada hasil atau produksi. Sehingga dikatakan ragam usaha adalah ragam bahasa yang paling operasional.
·         Ragam santai: variasi bahasa yang digunkan dalam situasi tidak resmi untuk berbincang-bincang dengan keluarga atau teman pada waktu istirahat atau rekreasi, atau pun olah raga.
·         Ragam akrab: variasi bahasa yang biasa digunkan oleh penutur yang hubungannya sudah akrab, seperti antar anggota keluarga, atau sahabat dekat.

2.2.4    Variasi Bahasa dari Segi Sarana
        Variasi bahasa ini dilihat dari sarana yang digunakan, yaitu ragam bahasa lisan dan ragam bahasa tulis. Penggunaan ragam bahasa lisan dibantu dengan unsur-unsur suprasegmental, sedangkan ragam bahasa tulis dibantu dengan ejaan termasuk tanda baca ( Chaer dan Agustina (1995:62).





BAB III
PENUTUP

3.1 Simpulan
Variasi bahasa adalah jenis ragam bahasa yang pemakaianya disesuaikan dengan fungsi dan situasi tanpa menghasilkan kaidah-kaidah pokok yang berlaku dalam bahasa yang bersangkutan (Suwito, 1985: 29).Sedangkan jenisnya menurut Chaer dan Agustina (1995:62), dapat dibedakan menjadi yaitu dari segi penutur, pemakaian, keformalan, dan sarana.
3.2 Saran
      Sebagai penutur bahasa kita seharusnya menggunakan variasi bahasa yang sesuai dengan konteksnya. Penulis juga menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna, sehingga penulis sangat mengharapakan kritik dan saran dari pembaca. 











DAFTAR PUSTAKA
Chaer,Abdul dan Leonie Agustina.1995.Sosiolinguistik Perkenalan Awal. Jakarta : Rineka Cipta.
Hasan,Kailani.2001. Linguistik Umum dan Sosiolinguistik. Pekanbaru : Universitas Riau Press
Sumarsono. 2013. Sosiolinguistik. Yogyakarta: SABDA
Suwito.1985.Pengantar Awal Sosiolinguistik.Teori dan Problema.Surakarta:Henary Offset Solo.Edisi ke-5




Tidak ada komentar:

Posting Komentar