Percayalah pada payung rusak kecil yang kau miliki, dan teroboslah hujan lebat tersebut. Saat ini, kami berencana untuk menggunakan bakat kecil yang kami miliki untuk memimpikan impian terbesar yang kami mampu impikan

Senin, 21 September 2015

[Freelance] Unstoppable of Sun (Chapter 1)


Author : Taamrthsari

Title : Unstoppable Of Sun 

Cast : Im Jae Bum ( JB - GOT7) , Ishikawa Mimi (OC)

Genre : Romance, School Life, Marriage Life, Comedy

Rating : Teenager

Length : Chapter


-Sinopsis-

Ishikawa Mimi mencoba mencari arti sesungguhnya takdir yang telah diberikan kepadanya. Bertemu, bersahabat dan menjadi pendamping hidup teman masa kecilnya. Semua berlalu begitu indah, semua berlalu begitu lurus dan mengalir dengan semua kebahagian. Yang hanya ia tahu selama ini bahwa hanya ia dan Jaebum. Tidak ada hal lain yang ia butuhkan. Sampai, saat itu tiba, saat untuk pertama kalinya ia harus benar-benar menguji hatinya, menguji kependiriannya. 
Benarkah selama ini aku mencintainya?
Apakah aku terlalu bergantung kepadanya?


Tidak seperti bulan, aku hanya ingin kau tetap menjadi matahari, ntah itu siang ataupun malam, kau tetap mencoba untuk menyinari. Walaupun, kau tidak bisa berada dilangit ketika malam, tapi setidaknya kau mencoba untuk menyinari melalui bulan. 
Terimakasih, bumi benar-benar terang karenamu.



Chapter 1
(Semua berawal dari sini)




Udara dingin yang menyegarkan membuatku merasa sangat nyaman, kuhirup dalam-dalam hingga paru-paru ku terasa sangat sejuk dibuatnya


“Ahh......... seperti inikah aroma kota Seoul” gumamku


Iya,  sekarang aku sedang berada di kota Seoul tepatnya di bandara Incheon, Seoul. Aku baru saja tiba, sekitar 10 menit yang lalu aku baru turun dari pesawat, sekarang disinilah aku, mencari seseorang yang aku kenal, disini sangat ramai sehingga aku kesulitan untuk mencari orang itu.


“Mimi-chan” nah... suara itu! Aku langsung menoleh ke sumber suara, benar ia sudah berada tepat dibelakangku, aku terdiam kikuk, menatap orang itu dalam, tak tahu kah ia..................


“Mimi-chan” ucapnya lagi, dan langsung memelukku erat


Tak tahukah ia............ aku benar benar merindukannya


“Jaebongi-a” sekarang air mataku menetes, aku benar benar merindukan namja ini.


“Mimi, apakah kau bertambah pendek?” ucapnya


“YA!” bentakku “Setelah lama tidak bertemu apakah hanya itu yang ingin kau katakan?”  ia hanya tersenyum, senyumnya itu selalu membuatku semangat, dan hal itulah yang membuatku sangat merindukannya


“Aku merindukan hidung pesekmu ini” Jae Bum mencubit hidungku, inilah kebiasaannya mencubit hidungku dari kecil “Ah tidak, aku merindukan semua tentangmu. Aku sangat merindukanmu, Mimi-chan” tatapannya sangat lembut dan hangat. 


“Aku juga, aku merindukamu” ia memelukku kembali “Biarkan seperti ini sebentar” ucapnya, akupun memeluknya erat



~Author POV~



Ramainya Bandara ini, tetap tidak membuat pasangan ini malu. Pasangan? Iya mereka adalah pasangan. Laki-laki itu adalah Im Jae Bum, dan perempuan itu adalah Ishikawa Mimi, umur mereka hanya berbeda 1 tahun, Im Jae Bum 20 tahun dan Ishikawa Mimi 19 tahun.


Kedatangan Ishikawa Mimi ke Seoul bukan semata mata untuk melihat namjanya, tetapi ia akan melanjutkan Studinya di Kyunghee University bersama dengan Jae Bum tentunya. Ia sudah berniat dengan sungguh-sungguh untuk masuk ke Kyunghee Univesity, walaupun faktanya bahwa Mimi tidak terlalu pintar, malah dia termasuk siswi yang malas, ia terlalu menyepelekan pelajaran, ia tidak menyukai ocehan guru yang menerangkan pelajaran di dalam kelas, tentunya karena itu membosankan, dan otomatis membuat ia ingin tidur. Sisi positifnya adalah karena Jae Bum telah meninggalkan Jepang dan memilih untuk kuliah di Korea, membuat Mimi harus belajar ekstra keras. Di dalam impiannyapun selama ini tidak pernah terlintas untuk kuliah, hanya karena Jae Bum setidaknya ia mempunyai satu tujuan.


Berbeda dengan Jae Bum, Jae Bum termasuk aktifis di sekolah mereka dulu, ia juga termasuk ke dalam golongan siswa yang pintar, aktfis, pintar dan tampan bagaimana orang-orang tidak terpesona dengannya. Hanya saja disamping dengan sikap positifnya, ia juga mempunyai sikap negatif, bukan negatif dalam artian dia memiliki kekurangan yang berlebihan tetapi hanya sedikit kekurangan yaitu sikapnya, ia terlalu bersikap dingin, ia tidak terlalu menyukai jika ia di idolakan, ia tidak terlalu dekat dengan banyak orang. Tapi, tidak untuk Mimi, ia menjadi orang yang sangat berkebalikan jika harus berhadapan dengan Mimi. Itu hanya otomatis.


“Oh... aku tahu” Jae Bum menyelesaikan pelukannya, dan Mimi terlihat sedikit kecewa “Kau menyusut?” ucap Jae Bum lagi


“Kenapa kau terus mengataiku? Tidakkah kau lihat badanku membesar?” ucap Mimi tak mau kalah


“Apanya yang membesar? Kau menyusut” canda Jae bum sambil tertawa


“Aku naik 3 kg, tahu?!” kata Mimi


“Kau benar-benar tidak perhatian” Mimi yang sedikit geram karena Jae bum tetap menertawakan badannya yang menurutnya menyusut, dan tentu Jaebum sangat menyukai untuk menggoda Mimi.


“Jaebongi!” aku memukulnya dengan tas sandangku “Aw....” ringis Jaebum yang tetap senyum menahan tawa


“Singkirkan dulu mata sipit jelekmu itu?!”


“Tapi, kau menyukai orang yang mempunyai mata sipit jelek ini kan?” goda Jaebum


“Tidak” bohong Mimi, mana mungkin ia tidak menyukai namja didepannya ini


“Benarkah?” ucap Jaebum yang masih dengan nada yang menggoda


“Tidak, aku tidak menyukaimu tapi mencintaimu. Puas?” ucap Mimi sambil menatap kedua mata namja itu dekat, ia tidak berani membayangkan wajahnya yang sudah mulai memanas ini, sepertinya merah seperti kepiting rebus.


CHUP


Ciuman singkat dari Jaebum sangat membuat Mimi tidak tahu harus bereaksi apa.


“Mukamu sangat merah Nyonya Im” Jaebum tersenyum puas, kemudian mengambil koper Mimi dan membawanya pergi meninggalkan Mimi yang masih terdiam di belakangnya “Kau mau tetap disana sampai malam?”


“Tidaklah” sontak Mimi bangun dari lamunan lamanya, dan mengejar Jaebum didepannya “Apa mukaku benar benar merah?” tanya Mimi pikiran polosnya pun muncul kepermukaan. Jaebum hanya mengangguk dan kemudian mengenggam tangan Mimi erat.




~Jaebum’s Apartemen~



“Akhirnya mereka akan bersama-sama lagi” ucap wanita yang sudah berkepala empat itu “Aku sangat merindukan Mimi-chan” ucapnya lagi “Wooyoung-a, pokoknya kau harus datang keacara makan besok malam, jika tidak aku tidak akan memaafkan mu” ucapnya lagi


“Iya eomma, pasti aku akan datang tetapi kau harus memaafkan aku ya?” pinta Wooyoung


“Kalau kau menepati janjimu, eomma akan menepati janji eomma juga”


“Gomawo eomma” Wooyoung


“Cari pengganti yang baru, tapi jangan sampai putus lagi eoh” ucap eomma. “Kau tahu kan, eomma sangat menyukai Soo Eun, tetapi kenapa kalian putus?” eomma frustasi


“Eomma mulai lagi kan” Wooyoung mendesah pelan, karena menurutnya seharusnya ia lah yang frustasi dengan keadaan ini, tetapi kenapa eommanya yang lebih frustasi daripada dirinya


“Jika saja semua bisa diulang, aku tidak ingin melepaskannya, melepaskan Soo Eun, tak akan pernah” batin Wooyoung




~Im Jae Bum POV~



“Wahh.... Seoul sangat indah” Mimi sangat sibuk memperhatikan jendela sambil menatap keindahan Seoul.


“Apanya yang indah? Gedung tinggi? Tokyo punya kan? Perasaan tidak ada bedanya” ucapku sambil menyetir mobil


“Tidaklah, ada beda tersendiri dimataku. Lihat disini sangat ramai........” ucapnya lagi.


“Ramai?” tanyaku “Di Tokyo juga, tidak kalah ramai dari sini, malah perasaan di Tokyo lebih ramai”


“Iya, tapi pemandangannya itu loh” ucapnya santai, aku sama sekali tidak mengerti maksudnya


“eh? Apasih?” ucapku sedikit bingung


“Kau lihat orang di ujung sana, yang barusan menyeberang” katanya dengan nada semangat “itu yang nama pemandangan, kyeopta”


“Ohh.... jadi itu yang kau katakan pemandangan” akupun menginjak gas kuat-kuat hingga melaju dengan cepat


“Kenapa dipercepat?” ia terlihat kecewa, biarkan saja siapa yang menyuruhnya melirik namja lain.


“Apa selama satu tahun aku tidak berada di Jepang kau selalu melirik namja-namja?” tanyaku, tentu saja aku khawatir dengan kepribadiannya yang mudah untuk bergaul dan mempunyai banyak teman laki-laki, tidak ada salahnya jika aku khawatir.


“Seharusnya yang bertanya seperti itu aku, disini banyak yeoja cantik, kau tidak selingkuhkan?” Kenapa ia menjadi meragukan kesetiaanku? Aku bukan tipe lelaki seperti itu, seharusnya dia tahu.


“Aku tidak selera untuk berselingkuh, ada yang lebih penting dari pada berselingkuh”


“Benarkah?” matanya mulai menyelidiki “Kalau kau ketahuan olehku, habis riwayatmu Jaebongi” setelah mengatakan itu ia kemudian menjitak kepalaku, seperti inilah sifatnya.


Kami sudah sampai ke apartemen, sekarang kami berada di pintu apartemenku. Mimi kemudian mencegat tanganku terlebih dahulu “Kenapa?” tanyaku


“Kau tinggal sendiri?” pertanyaan yang aneh, padahal ia sudah mengetahuinya


“Kau kan sudah tahu, ada apa?” Mimi mulai berkacak pinggang menghadapku, kenapa lagi yeoja ini?


“Kau benar benar tidak selingkuh kan?”


“Tidak” jawabku tegas “Tidak akan pernah, kau tidak percaya padaku?”


“Oke, aku percaya. Ayo buka pintunya” Aduh sikapnya seakan aku ingin mencubiti hidungnya saat ini.


“Ayo cepat buka pintunya”


“Kau saja yang buka, lagipula ini sekarang jadi apartemen kita, karena ini pertama kali untukmu, maka dari itu kau harus membuka pintunya”


“Buka saja apa susahnya?” Ia mencoba menekan tombol pin apartemen “passwordnya, angka itu kan?” Aku hanya mengangguk “29020” Bunyi apartemen menandakan password yang dimasukan adalah benar


“Password yang bagus” Ia mengusap puncak kepalaku. Seharusnya namja yang melakukannya kepada yeoja bukan sebaliknya. Tapi aku hanya tersenyum, karena aku sangat merindukan apapun perlakuannya terhadapku.


“Pastinya, karena angka itu spesial” ucapku “dan kau spesial” lanjutku


“Berhentilah merayuku” kami pun masuk ke dalam apartemen, dan ada dua sepatu yang bertengger di depan pintu masuk. Sepatu perempuan dan sepatu laki-laki. Sepertinya aku mengetahui siapa mereka.


....

“Mimi-chan” suara itu, aku mengenalnya dan tebakanku ternyata benar. Eomma, ya eommaku.


“Eomma, kenapa bisa masuk kesini?” tanyaku, aku melirik Wooyoung-hyung juga ada disana dengan tatapan bertanya.


“Maaf, aku sudah pastikan eomma tidak tahu password appartementmu, tenang saja” Wooyoung oppa meyakinkan.


Bukannya aku tidak ingin Eomma ku mengetahui password apartementku, ia orang yang sangat agresif dan overprotective, kadang orang agresif dan terlalu overprotective itu terlihat sangat buruk jika sifatnya keluar secara berlebihan. Aku hanya ingin hidup sedikit tenang dan mandiri.

“Jae Bum, Eomma tidak selera lagi mengetahui password apartement mu ini, kemarin eomma hanya khwatir padamu, coba kau lihat apartementmu ini sangat sepi, eomma takut kau kesepian eoh?” ungkap eomma


“Gomawo eomma” ucapku


“Tapi, sekarangkan sudah ada Mimi-chan, eomma tidak akan khawatir lagi padamu, eomma percayakan semuanya pada Mimi-chan, ya kan Mimi-chan?” tingkah mereka berdua didepanku sangat membuatku sedikit frustasi, kenapa tingkah mereka sangat kekanak-kanakan


“Pasti eommonim, aku akan merawat Jaebongi sepenuh hati” Mimi berkata sambil tersenyum senang, seperti ada sesuatu yang ia pikirkan saat ini “Kau harus menurut ya Jaebongi, ya ya ya” ia bersikap aegyo didepanku, oh tidak didepan Wooyoung-hyung dan eomma juga tentunya


“Berhenti bertingkah seperti itu” aku menutup paksa mata Mimi yang tadi berkedip-kedip tak tentu


“Mimi-chan tetap saja lucu” Wooyoung-hyung berkata sambil tersenyum menghadap Mimi


“Jangan terpesona hyung” ucapku pada Hyung


“Hehe, gomawo oppa. Aku akan memberikan aegyo yang lebih baik lagi nanti” Mimi berkata seperti itu, membuatku frustasi, tak tahukah ia ketika ia beraegyo itu sangat lucu, nanti ada yang melirik bagaimana


“Hyung tidak terpesona padamu, jadi jangan ge’er”


“Aku terpesona” aku mendesah pasrah, ketika hyung mengatakan itu “Kenapa Jaebum-a?” Hyung bertanya padaku


“Kau cemburu?” pertanyaan yang ini dilontarkan oleh mereka bertiga, Wooyoung-hyung, Mimi, dan Eomma. Ah..... kenapa mereka kompak sekali?



~Author POV~


“Bagaimana keadaan Okaasan?” Jaebum eomma bertanya pada Mimi, mereka berdua belum melepaskan semua rasa rindu mereka


“Okaasan, baik baik saja, okaasan juga menitip salam dan katanya pohon sakura di rumah eommonim sedang mekar sekarang”


“Ah........ sudah setahun ya meninggalkan pohon sakura itu, aku benar benar merindukan ketika ia berguguran, rumah menjadi sangat indah ketika itu” Jaebum eomma sedang bernostalgia.


“Sepertinya eomma punya ide” yang dikatakan Jaebum eomma membuat mereka bertiga yang mendengarkan bingung, dan menerka-nerka apa yang akan terjadi.


“Lusa, eomma akan kembali berkunjung ke Tokyo, eomma jadi sangat merindukan Tokyo, itu sudah lama sekali” ia tersenyum bahagia, dan yang menjadi pendengar setuju-setuju saja, jika Jaebum eomma sudah membuat keputusan tidak ada yang bisa mengubahnya kembali. Mutlak. Bisa dibilang seperti itu.


“Tapi, eommonim. Aku masih merindukanmu, tak bisakah lebih lama tinggal dulu?” ucap Mimi. Mereka berdua memang sangat dekat.


“Ah... kau sangat merindukan eomma mu ini eoh?” Mimi hanya mengangguk “Tapi, Mimi-chan mianhae. Maafkan eomma eoh, pokoknya setelah pulang dari Tokyo eomma akan mengajakmu berjalan keliling Seoul, kita shopping eoh”


“Okee eomma, aku jadi tidak sabar. Membayangkannya saja membuatku benar-benar ingin pergi sekarang”


“Oh ya, eomma sama Wooyoung pulang dulu ya, Mimi-chan lelah kan? Sore nanti, eomma kesini lagi” Mimi hanya mengangguk, badannya memang sangat lelah sekaarang “Jaebum bawa kopernya kedalam kamarmu sekarang, lihat Mimi-chan tidak punya energi lagi”


“Eommonim, kenapa di bawa kekamar Jaebongi? Aku tidak punya kamar sendiri kah disini?” ucap Mimi


“Mimi-chan, kau sudah umur 19 tahun sekarang, Jaebum 20 tahun. Kalau tahun kemarin, memang belum boleh untuk tidur satu kamar, tapi sekarang? Eomma ingin punya cucu secepatnya eoh, kalian harus memberikannya”

“Eommonim, aku belum terbiasa untuk tidur satu kamar sama Jaebongi” Mimi mengerang frustasi.


“Masa? Sebelum kalian menikah saja, kalian sudah sering tidur satu ranjang, eomma tahu itu”


“Itu karena aku sering bermimpi buruk eommonim”


“berarti bisakan? Kalian kan sudah Suami-Istri” Jaebum dan Mimi hanya saling tatap.

..


~Author POV~


Mereka berdua memang sudah menikah, mengapa bisa? Hanya waktu yang bisa menjawab kenapa ini bisa terjadi, kenapa mereka bisa saling dekat, kenapa mereka saling menyukai, dan kenapa mereka memilih untuk menikah dengan umur mereka yang relatif masih muda. Mimi saja baru menyicipi rasa mendapat predikat menjadi mahasiswi.


Yang mereka tahu, mereka tidak ingin berpisah, perihal mereka akan berpisah karena Jae Bum pindah dan Mimi menetap di Jepang. Hanya karena tidak ingin berpisah, mereka memilih menikah, tanpa menyicipi rasa bagaimana rasanya berstatus sebagai pasangan berpacaran. Memang terdengar sedikit aneh. Tapi mau bagaimana lagi.


Dibilang dekat, mereka sangat dekat, mereka sudah saling mengenal sejak balita kira-kira umur Jae Bum 3 tahun dan Mimi 2 tahun. Mereka pertama kali bertemu karena Jae Bum pindah untuk pertama kalinya di sebelah rumah Ishikawa Mimi. Jadi, mereka bertetangga, mereka selalu satu sekolah, sudah seperti keluarga membuat mereka sangat dekat, dan sangat dekatnya membuat mereka meyakini bahwa hidup berdua mulai saat ini adalah hal yang bagus.



Flashback

~Tokyo City~


“Okaasan, bisakah aku pindah ke kamar ini?” yeoja kecil itu merengek terus menerus sejak pagi tadi


“Okaasan......., please” yeoja kecil itu adalah Ishikawa Mimi, yeoja kecil yang masih berusia 5 tahun


“Kenapa kamar ini? Kamar ini onee-chan yang  menempatinya. Kamar yang sebelahnya saja, ya? Sama saja kan?” okaasan memberitahu Mimi dengan lembut. Ya, ibu Mimi memang orang yang sangat lembut, sedikit berkebalikan dengan sikap Anaknya yang hanya memiliki sedikit kepribadian yang lembut yang sudah tampak ketika masih kecil.


“Tidak mau, kamar disebelahnya tidak seperti kamar ini, Okaasan”


“Kenapa sayang?”


“Okaasan........”  Mimi kecil mulai menunjuk sesuatu didepan sana “Okaasan, lihat jendela rumah Jaebongi”


“Iya, ada apa dengan jendela rumah Jaebongi, sayang?”


“Okaasan tahu, Jaebongi kemarin bercerita padaku kalau ia akan mulai tidur dikamar sendiri, dan jendela itu adalah kamar Jaebongi, aku juga ingin tidur sendiri dan bersebelahan dengan kamar Jaebongi. Tidak bisakah Mimi pindah?” Mimi kecil mulai memelas dengan ibunya.


“Jadi karena Jaebongi?” Mimi kecil itu mengangguk mantap, karena memang karena Jaebum kecillah ia sangat antusias untuk menempati kamar ini


“Okaasan bilang sama Onee-chan dulu ya?”


“Okasan, tidak apa, aku akan pindah kekamar sebelah”  ucap Ishikawa Jun yaitu kakaknya Mimi yang muncul dari arah belakang


“Onee-chan” Mimipun memeluk kakaknya dengan riang “arigatou onee-chan”


“Jadi rawat kamarnya nanti baik baik ya, jangan diberantakin, kalo diberantakin onee-chan bakal  pindah lagi kekamar ini”


“Hai (Ya-dalam bahasa Jepang)”


Semenjak saat itu, karena kamar yang berdampingan mereka bertambah akrab saja, Jaebum dan Mimi. Persahabatan yang bahagia, mereka selalu melihat langit malam bersama. *author iri*


Tok....Tok....Tok.....


Berkali-kali suara ketukan jendela terdengar dari kamar Jaebum kecil, sehingga Jaebum kecil membukanya dengan nyawa yang masih setengah sadar.


“Aku masih mengantuk Mimi-chan” protes Jaebum kecil


“Ah...... Jaebongi, ayo bangun. Hari ini kita sekolah” teriak Mimi kecil yang masih dibalik jendela


“Sebentar lagi eoh”


“Apa aku harus memanjat jendelamu dan membangunkanku dengan tanganku sendiri eoh”


Hanya diam yang dijawab oleh Jaebum kecil, sehingga Mimi kecil akan membuat cara lain. Akhirnya ia masuk ke kamar Jaebum kecil dan mencubitnya sampai terbangun


“Kalau kau tak bangun, aku akan terus mencubitmu. Jaebongi............ CEPAT BANGUN!!!!”


“Aw...... sakit, ya iya aku bangun. Pulang sana kekamarmu!” Perintah Jae Bum kecil


“Kau masuk kamar mandi dulu, baru aku akan pulang” ucap Mimi kecil “Jika kau masih terus di tempat tidurmu, aku akan tetap mencubitmu” lanjutnya


Jaebum menurut saja, ia masuk ke kamar mandi dan kemudian mandi dan bersiap siap untuk berangkat kesekolah.



~Flasback off~


“Jaebongi, palli irona..........” Mimi sudah mencubit pipi Jaebum berulang kali, sama sekali tidak terpengaruh “Ayoo.......... antarkan aku, aku bisa bisa terlambat karena ulahmu” masih tidak ada jawaban dari Jaebum


“Morning kiss” ia masih didalam selimutnya, dan memasang senyum di wajahnya


“Morning kiss kakimu! Ayolah........” Mimi sudah sangat kesal “Kenapa kau tambah sulit untuk dibangunkan”


“eh..... kau ini, istri macam apa yang tidak memberikan morning kiss pada suaminya” Jaebum akhirnya terduduk dikasur sambil memasang muka kecewa.


“Cepat mandi, antarkan aku ke kampus hari ini ospek, aku tidak ingin terlambat dihari pertama masuk, kalau kau cepat mandi, semakin cepat aku akan berikan morning kiss”


“Benarkah?” Jaebum langsung bangkit dari tempat tidurnya dan raut wajah kecewanya menghilang.


-skip-


~Ishikawa Mimi POV~



“Sudah siap?” sekarang seorang namja keluar dari kamar memakai almamater universitasnya dengan sangat tampan


“Kau kenapa? Terpesona dengan ketampananku pagi ini” Jaebongi mendekat kearahku “Oh ya, morning kiss, kau tidak lupa janjimu kan?” sambil ia menunjuk bibirnya dengan jari telunjuknya dan dengan senyum smirk di wajahnya.


CHUP


“aku sudah telat, ayo!”


“Ini tidak berasa, cium sekali lagi” pintanya


“ayolah, jangan seperti ini kecil”


CHUP


Aku menciumnya lagi, tapi kali ini, Jaebum menarik pinggangku agar semakin dekat dengannya, dan tidak hanya itu ciuman kali ini bukan hanya sekilas, tetapi ada lumatan-lumatan yang di berikan olehnya. Aku hampir terlarut dengan suasana pagi ini


“Cukup, ini sudah lebih dari cukup. Ayo!” Aku melepaskan tautan bibir kami, nampak raut wajah kecewa di wajahnya, aku juga kecewa karena momen seperti inilah yang aku rindukan.

..


Padahal ia termasuk panitia yang akan mengospekku nanti, dan ia dengan santainya untuk bersiap-siap, padahal ia tahu upacara pembukaan hari ini aku sebagai mahasiswa baru tidak boleh telat, dan ia mentang mentang sudah jadi senior bisa dengan enaknya datang telat


“Tidak perlu terburu buru, kau tidak akan telat chagi” ia mengelus ngelus kepalaku dengan lembut kemudian mengacaknya seketika


“Ya Jaebongi! Menyetir sajalah”


“Iya iya chagi”


“Oh ya, masih ingat dengan peraturan kita ketika SMA?”


“Peraturan SMA?” tanyanya. Apakah ia lupa?


“Kau lupa?” tanyaku


“m......., sepertinya” ia menjawab dengan ala kadarnya dan tidak berekspresi. Datar saja.


“Tentang pernikahan kita, kita tetap merahasiakannya ya” dengan perkataanku seperti itu, ia langsung menoleh kearahku.


“Kenapa harus dirahasikan lagi? Bukankah kita bukan siswa SMA lagi, aku ingin memberitahu kesemuanya bahwa aku suamimu dan kau istriku” ucapnya masih dengan fokus menyetir mobil dan salah satu tangannya menarik salah satu tanganku, menautkannya erat.


“Bukan itu masalahnya, lagi pula aku ini juga bisa dibilang baru lulus SMA kan? Orang orang akan berpikir yang tidak tidak jika tahu aku sudah menikah, aku mohon bertahan satu tahun saja, setelah itu kita akan memberitahu mereka semua” Aku berkata jujur sekarang, karena aku masih takut.


“Sebenarnya jika kau bertanya padaku, aku pasti akan menjawab tidak. Tapi, karena menyangkut kepentinganmu, aku akan menyetujuinya” jawabnya dengan mencium punggung tanganku.



~Author POV~

~Kyunghee University~



“Apa hyung terlambat bangun lagi?” gumam Yoogyeom sambil mondar mandir


“Masa iya? Di acara penting kali ini ia bisa telat, tidak mungkin” JR  menimpali


“Tapi, ia sudah terlambat 15 menit” Yoogyeom melirik jam tangannya dan menunjukan kepada JR  “Benar juga, jika 10  menit lagi tidak datang, sepertinya penyambutan akan di gantikan oleh wakilnya saja, Mark hyung”


“Aku datang” Namja itu baru saja memasuki pintu


“Jaebum, kau!” Jackson sangat tidak habis pikir dengan namja ini, ia adalah ketua disini, presiden lebih tepatnya, seharusnya ia bisa lebih bertanggung jawab dengan statusnya.


“Mianhae, aku terlalu senang hari ini, makanya bisa telat, mianhae” Jaebum hanya tersenyum. Dan entah kenapa, semuanya memaklumi.


Acara penyambutan diadakan di aula Kyunghee University , ada ribuan yang telah resmi menjadi mahasiswa dan mahasiswi di Universitas ini.
“Baiklah, Sekarang dipersilahkan untuk rektor Kim Kyung Hee memberikan sambutan kepada mahasiswa/mahasiswi baru”


“Terimakasih semuanya, selamat pagi” rektor itu mulai berbicara “Hari yang sangat membahagiakan, karena kami semua bisa menyambut mahasiswa/mahasiswi yang terpilih untuk menjadi bagian dari Kyunghee university ini. Apa kalian senang telah menjadi bagian dari kami?” Semua mahasiswa menjawab dengan senang. “Maka dari itu, jadilah mahasiswa dan mahasiswi  yang baik yang pastinya membanggakan...”


Selagi rektor itu berbicara, ada satu dari ribuan orang disini yang tidak sama sekali antusias mendengarkan kata sambutan seperti yang lain lakukan, ia hanya sibuk mencari headset nya didalam tas kemudian mendengarkan beberapa musik, karena dari dulu ia sangat tidak suka pidato pidato yang menurutnya bisa membuatnya mengantuk hebat.


“m... permisi aku Park hyo rin. Apa kau tidak berniat mendengarkan sambutan ini”

Mimi pun melepaskan headsetnya sementara “Ah... maaf Hyo rin-ssi, apa musiknya terdengar?” Hyo Rin menggeleng tersenyum “oh ya aku Ishikawa Mimi, dari Jepang. Masalah kata sambutan, memang dari dulu aku tidak menyukainya, hehe”


“Kau dari Jepang ya? Jauh sekali, oh ya maaf mengganggumu, aku akan mendengarkan sambutan ini lagi”


“Tidak apa-apa, ini salahku juga. Hyo Rin-ssi nanti jika ada point-point penting bolehkah 
aku bertanya padamu” Ia mengangguk setuju, dan Mimi kembali mendengarkan musiknya.

...


“Baiklah, sekarang adalah kata sambutan dari Presiden Kyunghee University, Im Jae Bum dipersilahkan” Semua orang bertepuk tangan, Im Jae Bum sangat terkenal di sini, apalagi sekarang ia menjabat sebagai presiden disini, mana ada kaum hawa yang tidak menyukainya, menurut mereka Im Jae Bum sangat sempurna.


“JB, JB oppa” Panggilan JB yang melekat pada dirinya disini. Ntah sejak kapan, nama itu menjadi sangat populer.


“Oke.... terima kasih sebelumnya” semua orang terdiam ketika mendengar ucapan Jaebum


“Selamat datang di Kyunghee University” semua orang bertepuk tangan sambil memanggil kata J.B, dan ada yang mengatakan ‘saranghae’. Aneh. Memang.


Banyak kata yang diucapkan Jaebum, dan banyak pula tepuk tangan yang menghiasi aula ini. Sesampai Jaebum melihat Mimi dideretan tengah, masih sibuk memainkan handphonenya



~Im Jae Bum POV~



“Sikapnya belum berubah” batinku melihat tingkah Mimi, memang dari mereka kecil Mimi tidak menyukai hal hal yang berbau pidato, kata sambutan dll.


“Nanti kami akan membagikan kertas kepada kalian, itu salah satu dari tugas ospek kalian besok, selamat menikmati dan terima kasih” itulah kata akhir dari sambutanku, aku kemudian turun dari atas panggung


Para panitia, mulai membagikan apa yang diberitahukan olehku sebelumnya. “Yongjae, bagikan ini di kursi bagian sana” Jackson memerintahkan “Yoogyeom kau disana” “JR, kau disana”


“Jackson, aku bagi satu lembar”


“Oh ini, untuk apa? Bagianmu nanti yang secara lengkap” ucap Jackson bingung


“Aku perlu saja” akhirnya Jackson memberikan juga.


Akupun berjalan menuju Mimi, ya lembaran yang aku minta pada Jackson adalah untuk Mimi, ia pasti tidak tahu untuk apa kertas itu, karena ia tidak memperhatikannya. Dan dalam keadaan seperti inilah, yang membuatku benar-benar ingin menggodanya.


Ketika aku berjalan menuju bagian tengah tempat itu, semua mata memandangku, apakah sebegitu terkenalnya aku?. Jujur, aku tidak terlalu suka dengan kata populer, apalagi kata populer tersebut membuatku terlibat didalamnya.


“Siapa namamu” aku melihat seorang yeoja yang duduk di kursi sebelah Mimi “Kim See Ra” jawabnya dengan malu-malu


“Lihat, JB oppa menanyakan namanya, aku juga ingin” itu ucapan yang aku dengar di kursi bagian depan Mimi. Oh, kumohon berhentilah bersikap seperti itu. Aku tidak suka.


“Kau siapa?” akhirnya aku bertanya padanya juga, itukan maunya?


“Aku........ Lee Chae Rin” jawab yeoja itu gugup sambil menahan tawanya, akupun ingin tertawa juga melihat tingkah konyolnya. Ini benar-benar konyol.


“Lee Chae Rin, bolehkah Kim See Ra duduk di sebelahmu?”


“Eoh?” jawabnya bingung “Ne” ucapnya singkat


“gwencana?” tanyaku “gwencana” sepertinya ia ikhlas saja menuruti perintahku.


Setalah bangku di sebelah Mimi kosong, aku duduk disampingnya, tetapi ia tetap tidak menyadarinya. Aku lihat ia masih sibuk mendengarkan musik sambil menutup mata tanpa memperhatikan sekitarnya. Aku tarik sebelah headset yang sedari tadi bertengger di telinganya dan meniup telinganya pelan, meniup bagian telinganya adalah sensitifnya karena ia akan................


“YA! Jaebongi?!” teriaknya keras, sehingga hampir seluruh orang melihat kearah kami “Kau tahu, itu geli” ia masih tetap berteriak sambil mengelus telinganya. Aku benar-benar menyukai tingkahnya.


“Diam sedikit, di sini banyak orang” jawabkku santai, ia kemudian terdiam dan kemudian melihat kesekililingnya.


“Oh.... mianhae” ia berdiri kemudian membungkuk ke semua orang, sekarang aku ingin tertawa melihatnya, ia kemudian duduk kembali kemudian memukul lenganku karena ia mungkin kesal. “Ah... ini salahmu. Aku dipermalukan olehmu, Jaebongi” dan aku hanya tersenyum dan mencubit hidung peseknya –kebiasaanku-


“Siapa suruh yang dari tadi sibuk mendengarkan musikmu itu, kau pasti tidak mendengar apapun kan dari tadi?”


“Kau sudah tahu itu kan? Nanti kau wajib memberitahuku”


“Aku tidak mau memberitahumu, tapi ini untukmu” aku memberikan selebaran yang tadi aku ambil untuknya


“Apa ini?” jawabnya bingung


“Cari tahu saja sendiri, aku tidak berniat memberitahumu”


“Tidak masalah” dia menjawab dengan santai, pasti ia sudah ada rencana “Hyo Rin-ssi, ini untuk apa?”


Oh... jadi ia sudah menyuruh teman barunya untuk memberikan info padanya, cerdik sekali. Aku memberikan tanda pada teman barunya itu, siapa namanya? Hyo Rin, untuk tidak memberitahukan apapun. Ia melihat kearahku, sepertinya ia paham maksudku.


“YA! Jaebongi” ia melihat bahwa aku mengkode temannya untuk tidak memberitahunya “Hyo Rin-ssi, jangan lihat padanya. Beritahu aku” ia masih berusaha membujuk Hyo Rin.


“Sudahlah, aku pergi dulu ya Mimi-chan” aku kemudian berdiri dari tempat dudukku, dan mulai beranjak pergi.


~~~~~~~~~~~~~~~~~~


~Author POV~


Diujung jalan sana, Im Wooyoung sedang memperhatikan cafe didepannya, ada seorang gadis yang menjadi sorotan kedua matanya. Ia adalah Park Soo Eun yang sedang mengobrol dengan seorang namja, tampak dari sini namja itu sedang memarahi Soo Eun sambil menunjuk nunjuk ke muka yeoja yang ada didepannya, yeoja itu hanya terdiam membisu  tidak dapat berbuat apa-apa, hal itu lah yang membuat hati Im Wooyoung terasa sangat sakit.


Park Soo Eun adalah kekasihnya jauh sebelum mereka putus karena Soo Eun akan dijodohkan dengan namja yang sedang bersamanya sekarang, Kris. Mereka terpisah karena terpaksa, mereka berdua masih mencintai, tapi takdir mungkin berkata lain, takdir mungkin tidak berpihak kepada mereka berdua.


Namja bernama Kris itu akhirnya keluar dari cafe meninggalkan Soo Eun seorang diri, Wooyoung akhirnya beranjak dari tempat duduknya, tetapi ia tidak sanggup melihat wajah yeojanya sangat menyakitkan untuknya.


Soo Eun juga akhirnya beranjak pergi dari cafe, Im Wooyoung akhirnya bertekad untuk menghampiri Soo Eun, ya menurutnya ketika keadaan seperti ini ia pasti butuh tempat penghibur walaupun mereka bukan lagi sepasang kekasih


“Soo Eun” teriak Wooyoung


“Wooyoung-a” Soo eun terdiam lemas, ingin dipeluknya Wooyoung saat ini juga, banyak beban dalam dirinya yang ingin ia lepaskan


“Bisakah kita berbicara sebentar?”

...........


“Bagaimana hubunganmu dengan Kris, apa berjalan dengan lancar?” Tanya Wooyoung, sedangkan Soo Eun hanya mengangguk dengan penuh keraguan


“Baik baik saja, ia akan menjadi suami yang baik untukku Wooyoung-a” ia kemudian mencari sesuatu dalam tasnya, dan menyerahkan sesuatu untuk Wooyoung “Ini untukmu, minggu depan adalah acara pernikahanku, aku harap kau bisa datang”


Wooyoung terdiam mengambil undangan pernikahan itu, “Apakah kau bahagia?”


Soo Eun mengangguk “Aku bahagia” ucapnya berbohong, mana mungkin ia mengatakan yang sebenarnya pada Wooyoung. Akan lebih bahagia bila pendamping masa depannya adalah lelaki yang berada didepannya.


“Aku akan selalu melindungimu dari lelaki kejam yang akan menikahimu” batin Wooyoung

.......................................................................


~Author POV~

~Flashback~

~Tokyo City~



“Jangan memimpikan aku eoh” namja itu keluar dari kamar yeoja yang merupakan sahabat kecilnya, namja itu adalah Im Jae Bum yang saat itu berusia 14 tahun dan yeoja itu adalah Ishikawa Mimi berusia 13 tahun.


“Adalah mimpi buruk jika aku memimpikanmu” salah satu bantal yang awalnya di peluk oleh Mimi melayang seketika menepuk tubuh Jaebum


“Pergilah, jika Okaasan tahu kau masih disini, bisa gawat eoh” usir Mimi,


Jaebum akhirnya pergi melalui jendela Mimi, ya... ini memang kesalahan besar masih saja menempatkan mereka berdua dikamar yang sama, maksudnya adalah menempatkan mereka di kamar yang bersebelahan ketika masih kecil hingga remaja.


Jendela. Jendela adalah salah satu pintu alternatif mereka untuk bertemu, dari pada jauh-jauh melewati pintu depan. Hanya dengan memanjatnya kemudian turun, mereka sudah berada di halaman samping rumah Mimi, mereka memang memiliki pagar, tetapi berukuran yang tidak terlalu tinggi membuat pertemuan dengan jendela tersebut menjadi lebih mudah.


....

Mimi terlihat gelisah dalam tidurnya, yah seperti orang-orang pada umumnya, hal yang terjadi pada Mimi sekarang adalah ia mengalami mimpi buruk, ntah apa yang ia mimpikan sampai ia sangat gelisah seperti ini. Memang sudah beberapa hari ini Mimi mengalaminya, padahal seperti kata orang kita harus berdoa dulu sebelum tidur agar tidak ada mimpi buruk yang mendatangi, hal itu sudah ia lakukan malah sudah sering ia lakukan, tetapi tetap saja akhir-akhir ini ia selalu di datangi oleh mimpi buruk ini.


“hosh...hosh” nafas Mimi tidak beraturan, dadanya sedikit sakit karena efek dari mimpi buruk tadi, cukup lama untuk membuat nafasnya beraturan kembali. Setelah nafasnya sudah kembali normal, Mimi tidak bisa untuk langsung melanjutkan tidurnya kembali, terasa sangat tidak nyaman untuknya.


Ia kemudian beranjak ke jendela kamarnya, dan menaikinya, lalu mengetuk jendela di depannya, yang lebih tepatnya adalah jendela kamar Jaebum, ntah kenapa harus Jaebum yang ia panggil, padahal disamping kamarnya ada kakak laki lakinya yang juga sangat dekat dengannya.


“Ada apa?” jawab Jaebum setelah membuka jendela kamarnya, ia sedikit terkejut karena melihat keadaan Mimi didepannya, wajahnya berkeringat


“Jaebongi, mimpi buruknya datang lagi” ucap Mimi dengan lemas


“Tidak apa-apa, jangan takut, aku disini” Jaebum mengusap puncak kepala Mimi lembut seperti membagi kenyaman pada Mimi


“Aku takut”


“Jangan takut, apa perlu aku temani kau tidur?”


“Bolehkah? Tapi, akhir-akhir ini kau selalu tidur dikamarku, karena ulahku. Apa kau tidak terganggu untuk itu?”



“Tidak sama sekali, ayo berdiri kita tidur, ini sudah larut malam dan disini dingin” Jaebum melangkah keluar kamarnya dan masuk kekamar Mimi, tidak ada yang tahu tentang ini hanya mereka berdua.

.........


Paginya, jam sudah menunjukan pukul 07.00 waktu jepang, setengah jam lagi pelajaran sekolah akan segera dimulai, tetapi mereka berdua yang sekarang tidur di satu ranjang ini belum juga menandakan akan segera bangun.


“Mimi-chan” Okaasan yang dari luar mengetuk ngetuk pintu kamar Mimi sedikit bingung, tidak biasanya Mimi dipanggil tidak dijawabnya. Kemudian Okaasan membuka pintu kamar Mimi dan sedikit terkejut dengan apa yang dilihatnya


“Kenapa kalian tidur berdua?” Nada marah Okaasan membuat Otoosan dan Jun pergi kearah sumber suara, sedangkan Jaebum dan Mimi sudah ada sedikit reaksi dari tidurnya, dan sangat terkejut karena Okaasan sudah berada didepan mereka.


“Okaasan” Mimi terdiam


“Okaasan kan sudah bilang pada kalian berdua, kalian sudah menginjak remaja dan bukan anak kecil lagi, ini tidak baik jika kalian masih bertingkah anak kecil, umur kalian bukan lima tahun lagi, tidur bersama, mandi bersama tidak pantas lagi untuk kalian. Okaasan tahu kalian tidak akan melakukan hal yang macam-macam, tapi setidaknya berpikirlah yang wajar sayang”


“Maafkan aku Okaasan, jangan salahkan Jaebongi, ia hanya menemaniku tidur, malam tadi aku bermimpi buruk jadi aku hanya ingin ia menemaniku. Maaf Okaasan”


“Jangan lagi diulang, ya?” mereka berdua mengangguk “Sekarang bersiaplah untuk sekolah, sekarang sudah jam berapa!” Okaasan memang adalah ibu yang penyabar, ia selalu siap mendengarkan dan memberikan nasehat-nasehat yang bermanfaat dan pastinya ia selalu mempercayai kedua anaknya. Oleh sebab itu, dengan kepercayaan yang di amanahkan oleh ibunya, tidak boleh di rusaknya.


~Flashback off~

~~~~~~~~~~~~~~~


-Mitsuki Mimi- POV-



“Kau masih marah padaku?” Jaebum bertanya padaku sambil menyetir mobilnya “Chagi, jawab aku” aku tidak berniat sedikitpun untuk menjawab pertanyaannya, kemudian Jaebum mengerem mendadak mobilnya


“YA!”  ucapku karena kaget dibuatnya


“Masih marah padaku? Maafkan aku, aku tidak mau kau diam diam seperti ini” ia melepaskan kemudinya, dan menggenggam kedua tanganku “Kau bertingkah seperti itu terus dari tadi malam, bagaimana aku tidak khawatir”


“Kau khawatir?” Aku mendengus kesal kearahnya dan mengalihkan mukaku “Kau tahu tidak kemarin aku seperti orang bodoh karenamu?! Hanya aku yang tidak tahu, kau suamiku tapi apa? Ah... jinja” kesalku sambil menyandarkan kepalaku di kursi mobil.


“Seharusnya aku memberitahumu lebih awal, maaf maaf” sesal Jae Bum


Iya, aku seperti orang bodoh kemarin, kemarin adalah masa ospekku, kalian semua tahu, dan aku diperintahkan untuk mencari ketua dari Kyunghee University ke seluruh gedung, mahasiswa baru semuanya sudah bergerak mencarinya, sedangkan aku ketika itu seperti orang bodoh yang tidak tahu sama sekali ingin pergi kemana, bukannya tidak berniat untuk mencari tapi, aku sama sekali tidak mengetahui siapa ketuanya? Bukankah bodoh, karena aku tidak tahu bahwa ketuanya adalah suamiku sendiri? Dan yang membuatku kesal adalah ketika aku bertanya pada mahasiswa dan senior-senior yang lain, mereka hanya tertawa dengan nada meledekku seperti berkata ‘Presiden dari universitas ini saja tidak tahu? Kampungan sekali. Kemana saja kamu dari tadi?’


Memang salahku, karena tidak mendengar sambutan dari ketua sebelumnya, sehingga aku tidak tahu itu siapa, tapi bisakah memberitahuku lebih awal?


Sekarang sudah tiba di tempat kuliah baruku, akhirnya aku bisa menginjakkan kakiku disini untuk belajar sekarang. Baru turunpun, banyak pasang mata yang memperhatikanku


“Itu bukannya yang bertanya padamu siapa presiden kita kan?” Ingin rasanya aku timpuk kepalaku dan berteriak ‘berhenti mengatakannya?’ aku benar-benar malu, aku benar benar merasa bodoh.


“Kenapa dia turun dari mobil JB oppa?”


“Ada hubungan apa mereka?”


“Apa mereka menjalin hubungan?”


“Mana mungkin” “Mungkin saja, kita mana tahu?”


“Mungkin JB oppa memungutnya dijalan”


“Aku dengar kata ‘memungut’ tadi” batinku kesal “kalian kira aku kucing, dipungut pungut sembarangan?” batinku yang tetap mengontrol emosi.


Aku berjalan lurus kedepan tanpa memperhatikan Jaebum yang masih saja mengejarku dan meminta maaf padaku


“Mianhae........” ucapnya


“Kau urus dulu fans mu itu” aku melirik kearah wanita-wanita yang masih setia melihat kami “Kau terlalu terkenal disini, jadilah orang yang biasa biasa saja, dan jangan sampai ketahuan tentang kita, eoh?”


Ia mengangguk, dan aku kemudian meninggalkannya karena arah kami berpisah.
..........



~Author POV~

Disisi lain kampus Kyunghee........


“Aku menyukaimu, Mark” yeoja itu terus menerus memelas kepada namja yang sedang berada didepannya


“Aku tidak pernah mengatakan kalau aku menyukaimu, Na eun” namja yang bernama Mark Tuan itu menolak dengan tegas pengakuan dari Son Na eun


“Apa yang kau tidak suka dariku Mark? Katakan”


“Jika aku mengatakan aku tidak menyukaimu, bukan berarti aku membencimu Na eun. Kau adalah teman dekat kami, dan berarti kau teman akrabku” Mark melihat ada bulir air mata yang jatuh dari pipi Na Eun “Maafkan aku, aku tidak bisa lebih dari ini, Na eun” ucap Mark sambil menghapus air mata Na eun

...................................................................


“JB” panggil Jackson, sekarang mereka semua berkumpul di basecamp anggota GOT7 yang terkenal di kampus ini.


“Hei JB, kau kencan dengan seorang yeoja? Kau tidak berniat memberitahu kami, eoh?” JR menimpali


“Kencan? Apa yang kalian bicarakan?”


“Hyung, tidak usah berpura-pura dengan kami, semua dikampus ini saja sudah tahu dengan siapa kau datang hari ini” Yongjae sedikit antusias


“Beritahu saja, kau percaya pada kami kan?”


“Kalian ini kenapa, eoh? Yang kalian maksud Ishikawa Mimi?” Jae Bum sedikit bingung, dan sedikit tertekan


“Iya, yang waktu ospek kemarin, menanyakan padaku siapa presiden kampus, dia benar-benar payah, hyung” Yoogyeom sedikit terkekeh


“Ya maknae! Semua itu gara-gara kau!” ucap Jae Bum


“Kenapa?” wajah Yoogyeom berubah bingung, ia membatin apa yang salah? Anggota yang lainpun ikut bingung


“Gara-gara kau ia marah padaku, kau harus tanggung jawab” ucap Jae Bum


“dia? Yeoja itu?”


“Iya, Ishikawa Mimi” Jae Bum menggaruk kepalanya kesal, dan anggota yang lain sedikit bingung, karena sikap Jae Bum tidak pernah seperti ini sebelumnya.


“Mianhae hyung” hanya kata itu yang bisa Yoogyeom ucapkan, Yoogyeom sedikit takut jika melihat Jae Bum marah, lebih baik ia mengalah.


Tidak lama berselang dengan itu, seorang Yeoja muncul siapa lagi jika bukan Ishikawa Mimi


“Ano (Bahasa Jepang).....permisi” ucap Mimi melihat segerombolan namja namja terkenal yang sekarang ada dihadapannya


“Ah....... kau” Mereka yang ada di sana kecuali Jae Bum berbicara


“Mimi-chan, kenapa kau kesini?” Jae Bum menghampiri Mimi yang menunggunya didepan pintu basecamp mereka


“Ah... Jinja” ucap Mimi sambil menghela nafasnya dan itu terdengar oleh Jae Bum “Kenapa kau sangat terkenal sekali disini?” Mimi kemudian meniup-niup poninya tanda dirinya kesal


“Kau tidak suka eoh?”


“Pasti, kau tahu itu, sekarang sudah banyak gosip tentang kita apa yang ingin kau perbuat? Aku benci digosipkan Jaebongi-a, kupingku terasa gatal” ucap Mimi memegang telinganya


“Arraseo..... Arraseo, kau tidak perlu memberitahukanku untuk membereskan masalah ini karena aku akan membereskannya tanpa kau suruh, tapi Mimi-chan soal..........”


“Aku maafkan jika gosip ini mereda”


“Benarkah? Kau tidak bohongkan? Iyakan?” Teriak Jae Bum antusias, kemudian mencubit hidung Mimi seperti yang ia sering lakukan “Gomawo” ucap Jae Bum lagi


“Jangan bertingkah seperti itu, kau kekanak-kanakan sekali, Jaebongi-a”  Jae Bum hanya tersenyum simpul.


“Hmm........” deheman dari anggota dari Got7 yang sedari menguping pembicaraan mereka berdua, mereka juga mengeluarkan senyum penasaran dan senyum rasa ingin tahu tentang Mimi dan Jae Bum


“Kalian menguping?” Tanya Jae Bum


“Kami hanya mendengar sedikit” JR angkat bicara


“Tidak berniat mengenalkan ke kami?” Jackson berbicara sambil tersenyum kepo (haha)


“Oh ya, ini Ishikawa Mimi” Jae Bum memperkenalkan dan Mimi mulai memberi salam kepada mereka yang kepo tadi


“Jackson” “JR” “Yoogyeom” “Yongjae”


“Mimi” ucap Mimi memperkenal dirinya sekali lagi


“Hubungan kalian?” Yongjae yang langsung mengatakan ke point pentingnya


“Kami......... teman kecil” ucap Mimi langsung


“Kami suami-istri” batin Mimi dan Jae Bum serentak, memang lain dimulut lain dihati.

...........................................................................................



Mata kuliah pertama sedang berlangsung, pelajaran dari Shin Songsenim sangat membosankan, bisa dihitung dengan jari 10 orang yang sedang memperhatikan songsenim, sedangkan yang lainnya, ntahlah ada yang sedang berada dialam mimpi, setengah mimpi, setengah berkhayal, ngegosip, dll.  Sedangkan Mimi, mata sangat terpaku kedepan seperti memperhatikan Songsenimnya sedangkan pikirannya nun jauh disana. Ckck~~


“Akhirnya” kata-kata ini keluar dari hampir seluruh mulut anak kelas. Baru saja pelajaran dari Shin Songsenim berakhir, dan itu sangat melegakan.


“Mata kuliah kedua jam berapa?” Mimi bertanya pada pada Park Hyo Rin, teman barunya. Iya, Park Hyo Rin, masih ingat ketika upacara pembukaan yang duduk disebelah Mimi, semenjak kejadian itu Mimi akrab dengan Hyo Rin. Mimi memang sangat periang dan mudah bergaul sehingga ia dengan mudah mendapatkan seorang teman baru.


“Masih ada 2 jam lagi untuk kita menunggu” ucap Hyo Rin


“Bagaimana kita pergi kekantin? Aku tidak sarapan pagi tadi” ucap Mimi sambil memegang perutnya. Mimi bukannya sengaja untuk tidak sarapan, karena ia malas membuat sarapan pagi tadi, kalian ingat bahwa Mimi dan Jae Bum bertengkar pagi tadi.


Setelah membeli makanan, kemudian ia duduk di salah satu bangku kantin, kantin ini tampak ramai, apalagi jika ada beberapa gerombolan perempuan perempuan yang sedang sibuk menatap JB.



~Mimi POV~


“Yang mereka tatap itu JB?” tanyaku sambil melahap makanan


“Tentu” Jawab Hyo Rin pasti “Ia sangat terkenal disini, dia terlihat sempurna”


“Begitukah?”


“Mimi, tentang gosip itu....... sepertinya kalian sangat akrab. Bagaimana bisa?”


“Oh itu, kami akrab selayaknya teman. Kau tahu, aku dengannya adalah temannya dari kecil” ucap Mimi yang mulai melahap makanannya


“Benarkah? Wah....pasti sangat menyenangkan kenal dengannya dalam waktu yang sangat lama”


Mengenalnya, bagaimana rasanya? Aku sering bertengkar dengannya, setiap pertemuan dengannya selalu membuat seluruh tubuhku gatal jika tidak dikit saja bertengkar dengannya. Ketika aku tertawa disisinya, itu terasa lebih menyenangkan, aku puas, sangat puas tertawa bersamanya. Dan ada kalanya aku menangis, ia selalu berada di sampingku dengan 1 kotak coklat dan es krim, menghiburku dengan tawa kecilnya. Dia yang sempurna, ya......dia yang sempurna selama ini.


Aku memikirkan kenangan-kenangan selama 18 tahun ini, cukup menyenangkan.


“Rasanya?? Dia yang terbaik, seperti yang kalian katakan, ia baik” jawabku


Tiba-tiba, “Aku makan disini” ini suara yang aku kenal


“Kenapa harus duduk sini? Pergi sana, kau menganggu makan tenangku Jaebongi-a” ucapku


“Kalian semua” tunjuk JB “Aku perkenalkan ini Ishikawa Mimi, teman kecilku”


Terasa sangat aneh ketika ia memanggilku ‘teman kecil’. “Bisakah aku makan dengan tenang dengan teman-temanku ini?” ucap JB lagi


..........



Kami masih di meja makan kantin sambil mengobrol asik, ini awalku di kampus ini, dan terasa cukup menyenangkan.


“Jae Bum-ah” suara perempuan yang terasa asing bagiku


“Eoh? Ohh.. kau Na eun. Kenapa? Ada masalah?” Jawab JB


“Bisakah aku berbicara denganmu sebentar? Apakah mengganggumu?” perempuan itu, siapa namanya Na eun? Siapa pun itu, berkata dengan santainya di samping meja kami. Dan di putaran kepalaku, bagaimana bisa ia terlihat akrab dengan suamiku?


“Sekarang?”


Perempuan itu hanya mengangguk pelan


“Baiklah, ini tidak mengganggu sama sekali” Jaebum pun berdiri dari kursi yang ia duduki “Maaf semuanya, aku duluan ya”


Setelah Jaebum berlalu, pendengaranku terdengar berbeda


“Aku suka mereka” “Na Eun, JB. Terdengar sempurna” seperti itulah mereka-mereka semua berbicara


“Kau pernah mendengar tentang Na Eun?” Jackson berbicara


“Na Eun? Siapa?”


“Perempuan tadi” ucap Yoogyeom


“Aku tidak pernah mendengar sama sekali, memangnya mereka kenapa?”


“Ntah menurutku saja, atau menurutmu juga Mimi-sshi” ucap Jackson


“Tentang?” ucapku bingung dan walaupun ada gejolak aneh di tubuhku.


“Aku sudah bersama dengannya dari masuk kampus ini, sikapnya dengan perempuan sangatlah dingin, ia tidak terlalu peduli dengan apa yang ada di sekitarnya, sehingga para fans nya saja sangat sulit untuk lebih dekat dengannya” ujar Jackson


“Ya, aku tahu, teman-temanku di Jepang juga persis berkata seperti yang kau katakan” ucapku


“Tapi..., aku juga tidak tahu, aku dan yang lainnya pun menganggap JB terlihat berbeda di hadapan Na Eun” kenapa dengan hatiku bereaksi seperti ini?


“Setiap aku bertanya padanya, apakah ia menyukai Na Eun? Ia selalu bilang tidak. Aku bukannya ingin mengetahui segalanya, tetapi ia sangat tertutup kadang membuatku kesal. Aku kira kau tahu sesuatu, ternyata padamu juga ia menutupinya” lanjut Jackson lagi


“Sepertinya ia memang belum siap untuk bercerita” ucap mimi dengan senyum simpul yang dipaksakan. Apa-apaan ini?

....


~Author POV~


Kuliahpun telah berakhir, mimi sudah tidak memiliki jadwal kuliah lagi untuk hari ini. Tapi tidak untuk Jaebum sehingga Mimi harus pulang terlebih dahulu. Sambil mengecek handphonenya yang sedari tadi tidak dia aktifkan disebelah tangan kanannya dan memegang sekaleng soda di tangan sebelah kirinya, karena masalah ketika di cafe tadi. Ia tidak ingin menghubungi Jaebum ataupun Jaebum yang terlebih dahulu menghubungi. Bagaimana tidak marah, Mimi sekali lagi seperti orang bodoh yang tidak tahu sama sekali apa yang terjadi dengan Jaebum akhir-akhir ini, dan apa? Gosip yang ntah bersumber dari mana menyimpulkan bahwa ada hubungan khusus antara Jaebum dengan Naeun. Oh tidak.


“Ah... jinja! Benar-benar tidak menghubungiku? Anak ini rasanya ingin aku hajar” Mimi meneguk soda terakhirnya hingga habis dan menendangnya tak tentu arah.


“Aw” suara ringisan itu segera di lihat oleh Mimi bagaimana tidak, kaleng soda yang ia tendang terkena lelaki yang berada didepannya. Mimi kemudian menghampiri lelaki itu “ah.... maafkan aku. Maafkan aku. Aku benar-benar tidak sengaja” ucap mimi dengan membungkukan badan


“ah... tidak apa-apa” ucap lelaki itu “Bagaimana tidak apa-apa, kaleng itu mengenai kepalamu. Aku menendangnya menggunakan sepatu saja terasa cukup menyakitkan, bagaimana denganmu yang tanpa memakai apa-apa di kepalamu. Beritahu secepatnya kepadaku kalau kau berasa ada yang aneh dikepalamu, aku akan bertanggung jawab”


“kau lucu sekali, aku benar benar tidak apa-apa. Tidak usah terlalu khawatir” ucap lelaki itu “yang perlu kau khawatirkan seharusnya adalah handphonemu, handphonemu terus berbunyi”


Mimi memang tidak mendengarkan handphonenya yang sudah cukup lama bergetar di tangannya “Ah... maaf” Mimi langsung mematikan panggilan telponnya. Panggilan itu dari Jaebum, dan dengan seharusnya Mimi dengan cepat mematikan handphonenya, karena ia sangat marah dengan Jaebum kali ini. Benar-benar marah.


“Oh iya, aku ishikawa Mimi. Panggil aku mimi, aku mahasiswa baru disini. M.... begini, m... siapa namamu?”


“Mark, namaku Mark”


“M... begini Mark. Maaf merepotkanmu, boleh kau antarkan aku ke halte bus yang terdekat. Aku belum terlalu paham daerah sini”


“Tentu, aku juga akan ke halte bus sekarang. Kita bisa pergi bersama” Mimi membalas dengan senyuman


“Terima kasih” ucap Mimi


Di selama perjalan menuju halte, Mimi sangatlah berisik dan menceritakan semua yang terjadi pada Mark, padahal ia baru mengenal belum lebih dari sejam, sejampun sedikit meragukan. “Oh... ya, maaf aku terlalu banyak cerita” ujar Mimi


“tidak apa, aku senang mendengarnya. Dan aku akhirnya tahu, bahwa yang dibicara anak-anak kampus dengan JB adalah kamu, ishikawa mimi.”


“Oh... kau angkatan atas? Dengan menyebutkan jaebum tanpa embel-embel sunbae atau hyung, aku rasa kau angkatan atas. Benarkan?” ucap Mimi sepontan


“Kenapa baru menanyakan sekarang?”
“Ah... maafkan aku sunbae, aku pikir kita satu angkatan. Kau tidak terlihat seperti seniorku. Maafkan aku”


“Sudah berapa kali kau meminta maaf kepadaku hari ini?”


“Ntahlah, aku terlanjur banyak melakukan kesalahan hari ini. Lagipula tidak ada salahnya mengucapkan permintaan maaf”


“aku satu tahun diatas Jaebum. Anggap aku sebagai temanmu, agar tidak terlalu formal atau canggung berbicara padaku walaupun aku seniormu”


“Itu memang tidak mungkin terjadi, mungkin aku adalah junior yang cukup mengesalkan karena aku berbicara dengan kata yang non formal pada sunbae, dan bertingkah seperti sudah lama dekat dengan sunbae. Aku jujur saja, sebelum sunbae menilaiku yang tidak-tidak, beginilah aku. Tapi, walaupun aku bersikap seperti itu, aku menghormatimu sebagai sunbae”


“Kau tahu, kau adalah junior yang luar biasa” ucap Mark dengan memberikan dua jempolnya “itu bus-nya sudah datang, ayo naik. Kita satu arahkan?” Mimi mengangguk


Bunyi handphone Mimi terdengar lagi, dan tentu saja Mimi mengabaikannya “Kenapa tidak diangkat?” ucap Mark


“Apa menganggumu?”


“Cukup mengangguku, lebih baik kau angkat”


Mimi akhirnya mengangkat telpon yang sedari tadi membuatnya kesal, si penelpon yang tertera namanya itu juga membuatnya kesal


“Kau dimana? Kau marah padaku kan?”



“Siapa bilang?”


“Kau dimana? Masih dikampus kan? Jangan kemana-mana nanti kau tersesat”


“Tidak usah peduli, aku sudah pulang”


Pip


“Agh.......” Mimi menyenderkan kepalanya yang sudah penuh dengan kekesalan


“Sunbae, didaerah dekat sini, dimana letak kedai ice cream?”


“Kenapa? Kau ingin makan ice cream?” Mimi mengangguk, karena dengan makan ice cream lah ia biasanya menghilangkan moodnya dengan mudah “Kau mau kutemani, rasanya akan enak makan ice cream dengan cuaca yang seperti ini”


................



“Kim songsenim, berhalangan hadir” ucap penanggung jawab mata kuliah kim songsenim.


“Bagus” ucap Jaebum kemudian “aku pulang duluan”


“Kau tidak ingin ikut kami makan siang, minum es gitu yang segar, cuaca mendukung loh” ucap jackson


“Maaf, lain kali”

Jaebum langsung menuju parkiran dan mengambil mobilnya, ia terburu-buru karena ia sangat mengkhawatirkan Mimi, Mimi belum terlalu paham kota Seoul dan ia belum juga terbiasa dengan keadaan di kota ini.


Ia sudah sampai di depan gedung apartemennya, menunggu di sini dalam beberapa waktu. Sudah setengah jam ia menunggu Mimi, tapi tak kunjung sampai, seharusnya Mimi bisa sampai lebih dulu di bandingakan Jaebum di gedung apartemen tapi tetap tidak membuahkan hasil karena Mimi belum juga tiba. Baru ia ingin mengendarai mobilnya kembali, ia akhirnya menemukan Mimi sedang berjalan dengan seorang lelaki yang tentunya ia kenal.


“Mimi-chan” teriak JB kemudian menghampiri Mimi “Kau tahu aku begitu khawatir” ucapnya sambil meletakan kedua tangannya ke bahu Mimi.


“Sudahku bilang, tidak usah peduli”


“Kau masih marah?” tanyanya


“Siapa yang bilang bahwa aku marah? Kau lihat aku tidak marah” ucap Mimi tanpa melihat Jaebum sedikitpun


“Lihat aku, jika kau tidak marah lihat aku dan ucapkan bahwa kau tidak marah padaku”
“Sudahlah” ia menghela “Sunbae, kau bilang kau tinggal di apartemen yang sama dengan kami. Wahh.... bagaimana ini sungguh-sungguh kebetulan. Kau dilantai berapa?”


“Di lantai 9” ucap Mark. Mark merasa ada sesuatu yang aneh disini, pertengkaran mereka seperti pasangan.


“Kami dilantai 13”


“Kalian tinggal bersama?”


“Mengapa tidak?”


“Ah... maksud Jaebongi, ah... maksudku jaebum mengapa tidak, karena di sini aku hanya mengenal dia, bukankah lebih aman tinggal dengan orang yang benar-benar kau kenal dan kau percayai”


“Betul juga” ungkap Mark “Tinggal di kota baru memang tidak mudah”


“Dan.... hyung, mengapa bisa kau pindah di apartemen, bukankah sebelumnya kau tidak tinggal disini, sebelumnya kau tinggal dengan keluargamu kan?” Jaebum bertanya, memang selama ini Jaebum cukup dekat dengan Mark, ada beberapa peristiwa yang membuatnya perlu dekat dengan lelaki itu.


“Iya, hanya ada suatu masalah yang membuatku ingin pindah dan menetap di apartemen sendirian, buatku tidak masalah”


“Karena Naeun?”


“Tidak usah menyebutkannya, aku tidak ingin mengungkit masalah itu terus. Biarkan saja mengalir dengan sendirinya” raut wajah Mark berubah seketika, bagaimanapun ia tidak menyukai jika terus menerus dihubung-hubungkan dengan perempuan itu, bukan membencinya, hanya tidak menyukai. Karena, itu terlihat sangat merisihkan


“Kau tahu itu menyakitkan buatnya, tidak bisakah lebih terbuka? Apa salah dia hingga kau memperlakukan dia seperti ini?”


“Sepertinya kau sungguh peduli padanya, pedulilah padanya seperti sebagaimana kau lakukan selama ini padanya, karena aku tidak peduli. Aku sudah sampai, sampai jumpa besok, Mimi lain kali kau traktir aku”


Pintu lift pun menutup


Dan tentu saja, raut dan kekesalan Mimi bertambah. Ini perlu diselesaikan.



-TBC-


Akhirnya selesai saudara-saudara *tepuk sorak soray*
Ini ff kemaren yang judulnya JUST YOU, karena menurutku terlalu kependekan, dan juga penyampaiannya yang rada kurang mengena, dan juga tata letak penulisan masih berantakan, maka dari itu FF yang judul JUST YOU sudah resmi saya hapus. Dan penggantinya adalah UNSTOPPABLE OF SUN ini, sebenarnya ceritanya sama, hampir keseluruhan sama, hanya penggantian judul, penambahan kata sedikit dan pengeditan. yaa~~ dan juga poster nya yang diganti. mihii :3Kenapa diganti? Kenapa nggak ngelanjutin aja?Hanya dengan alasan pembaharuan yang lebih baik saja, untuk tambahannya ada kok. cuma baru sedikit aja, haha :D belum ada pencerahan yang lebih :)
Semoga diberi kelancaran buat ngelanjutin 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar